Friday, October 16, 2015

Contoh Makalah Laporan Karya Wisata



BAB I

PENDAHULUAN
1.1  Latar  Belakang

            Karya  Wisata  merupakan  kegiatan  pembelajaran  yang  dilaksanakan  diluar  sekolah  sehingga  siswa  dapat  mengkaitkan  antara  hasil  pembelajaran  yang  dilaksanakan dibantu  sekolah  dengan  dunia  nyata sesuai  dengan  kurikulum  tingkat  satuan pendidikan.
            Karya  Wisata  merupakan  suatu  kegiatan  untuk  memperluas  cakrawala  wawasan,pengetahuan. Mempererat  persaudaraan, memperkokoh persatuan serta  mengenal  berbagai lingkungan  hidup  atau  budaya  bangsa  sehingga siswa  mempertebal  rasa  cinta  terhadap  budaya  sendiri.

1.2  Tujuan  Kunjungan
Tujuan  dari  kunjungan  ini  antara  lain :
1.      Menambah  ilmu  pengetahuan dan wawasan  yang lebih  luas.
2.      Menambah  pengetahuan  tentang  daerah  yang  kami  kunjungi.
3.      Mempelajari  dan  melestarikan  kebudayaan  daerah  yang  kami  kunjungi.
4.      Mengetahui  sejarah  tentang  Danau  Ranau,Goa  Putrid,dan  Curup  Tenang ( bedegung ).

1.3  Manfaat  Kunjungan
Manfaat  dari  kunjungan  antara  lain :
1.      Mengenal  tempat-tempat  yang  menjadi   cirri khas  Oku  Selatan.
2.    Mengetahui  asal  usul  dari  tempat Danau  Ranau,Goa  Putri,dan Curup  Tenang ( bedegung ).
3.      Mempererat  kerja  sama dan  kebersamaan  antar  sesama.

BAB  II
LANDASAN TEORI

2.1 Kesenian dan Budaya Sebagai Ciri Khas Kepribadian Bangsa Indonesia
Indonesia atas bebagai suku,bahasa dan agama yang berbeda.suku jawa adalah grup etnis terbesar dan masih banyak suku dengan adat dan budaya yang berbeda.jawa timur dan jawa tengah adalah bagian dari etnis jawa yang secara  budaya dan geografis dekat dengan pulau bali ,semboyan nasional indonesia  adalah “bhinneka tunggal ika” (“berbeda-beda tetapi tetap satu”), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keaneka
ragaman hayati terbesar yang dipersatukan dalam satu negara yaitu Indonesia.

2.2 Objek wisata faktor pndukung dan faktor penghambat
Banyak keunggulan yang dimiliki kawasan wisata selekta,candi prambanan,candi borobudr,kebun binatang gembira loka dan kawasan malioboro di jogja yang  dapat dikembangkan untuk menjadi sebagai daya tarik wisata, namun sampai  sekarang pengembangan kawasan wisata ini masih belum dilakukan secara optimal sehingga masih perlu ditingkatkan pengunjung untuk menuju kawasan  wisata ini .

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 WAKTU PELAKSANAAN
Kegiatan Study Tour Ini Di Laksanakan Pada :
Hari/Tanggal : Sabtu, 13 Desember 2015
3.2 LOKASI KUNJUNGAN
a.    Danau Ranau
b.    Goa Putri
c.    Curup Bedegung
3.3 TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1.    Metode Wawancara
Data dapat diperoleh dari  mendengarkan penjelasan dari pemandu tentangobjek wisata yang kami kunjungi dan kami mewawancarai pemandu wisata tersebut.
2.    Metode Observasi / Pengamatan
Metode pengamatan dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung dilapangan.
3.    Metode Kaji Pustaka
Kami juga memanfaatkan brosur-brosur,buku panduan,dan membuka situs-situs  tentang objek wisata yang ada di internet sebagai pelengkap bahan.
4.    Metode Dokumentasi
Kami mengambil gambar atau foto objek wisata yang kami kunjungi.

BAB  IV
PEMBAHASAN
4.1    Danau ranau

AWALNYA adalah letusan yang dahsyat dari sebuah gunung berapi. Letusan itu mengakibatkan tanah terbelah menjadi semacam jurang yang memanjang. Sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung berapi itu kemudian menjadi sumber air utama yang mengisi belahan akibat letusan itu.

Air terus-menerus mengalir ke dalam belahan yang menyerupai lubang besar. Dan lama-kelamaan lubang besar penuh dengan air. Lalu, di sekeliling danau baru itu mulai ditumbuhi berbagai tanaman, di antaranya tumbuhan semak yang oleh warga setempat disebut ranau. Maka danau itu pun dinamakanlah Danau Ranau.Itulah legenda terjadinya Danau Ranau. Sisa gunung api itu kini menjadi Gunung Seminung yang berdiri kokoh di tepi danau berair jernih tersebut.

Dari masa ke masa, Danau Ranau menjadi saksi kisah dan legenda masyarakat Banding Agung. Salah satu kisahnya adalah legenda Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Mereka berdua adalah dua jawara yang amat disegani oleh lawan-lawannya.

Karena masing-masing jawara itu penasaran dengan kekuatan lawan, suatu kali mereka bertemu untuk mengadu kesaktian. Pertarungan itu bukan pertarungan kemampuan bela diri, tetapi menguji kesaktian. Pemenang ditentukan dengan cara masing-masing kesatria itu bergantian tidur menelungkup di bawah rumpun bunga aren. Siapa yang mampu menghindari terjangan bunga aren yang dipotong, menjadi pemenang.

Disepakati Si Mata Empat yang terlebih dulu tidur menelungkup di bawah bunga aren itu. Ketika bunga aren dipotong oleh Si Pahit Lidah dan deras menghujam ke tanah, ternyata dengan gesit Si Mata Empat mampu menghindar. Itu karena Si Mata Empat memiliki dua mata di belakang kepalanya hingga dengan mudah menghindar ketika bunga aren yang lebat dan berat itu meluncur ke bawah.

Giliran Si Pahit Lidah tidur menelungkup di bawah gugusan bunga aren itu. Si Mata Empat kemudian memanjat pohon dan memotong bunga aren. Gugusan bunga yang berat itu segera menghujam tubuh Si Pahit Lidah. Ia tewas karena tidak mampu menghindar dari terjangan gugusan bunga aren.

Si Mata Empat menang, namun ia penasaran. Sebuah pertanyaan mengganggu dalam hatinya, “Benarkah lidahnya pahit seperti julukannya?” tanya Si Mata Empat dalam hati.
Dengan penasaran ia kemudian mencucukkan jarinya ke mulut Si Pahit Lidah yang tewas. Lalu perlahan-lahan jari yang telah mengenai liur Si Pahit Lidah itu diisap oleh Si Mata Empat. Ternyata air liurnya mengadung racun sehingga Si Mata Empat pun mati.

Mereka kemudian dimakamkan di tepi danau tersebut. Mereka menjadi bagian makam leluhur warga Ranau yang disemayamkan di sekitar danau tersebut. Karena itu, setiap kali warga Ranau berziarah ke makam mereka sebelum mengadakan hajatan besar, semisal Festival Danau Ranau, Juli lalu.

Warga Banding Agung mengatakan, kedekatan dengan para leluhur itu merupakan bagian dari hidup warga setempat. Mereka memiliki penghormatan pada tradisi itu. Warga menjaga dengan sungguh-sungguh warisan alam itu dengan baik. Oleh karena itu, keaslian Danau Ranau tetap terjaga, dan tak ada yang memungkiri keelokan danau tersebut.

DANAU Ranau memang memiliki pesona. Bagamaina tidak? Bekas letusan gunung berapi tersebut seolah membentuk panggung alam yang elok. Gunung Seminung yang menjulang 1.880 meter di atas permukaan laut menjadi latar belakang yang penuh dengan nuansa magis. Tebing dan barisan perbukitan menjadi pagar pembatas panggung megah itu.

Hamparan sawah yang hijau berpadu dengan air Danau Ranau yang biru seolah menjadi pelataran tempat berbagai jenis ikan berenang, menari. Butir-butir kopi yang merah seakan-akan menjadi pemanis keindahan itu. Keelokan itu menjadi lengkap dengan bingkai indah pantai berpasir dan kerikil putih yang ada di sepanjang tepi danau itu.

Pada pandangan pertama, kesemarakan alam itu memikat mata. Penat karena harus duduk melipat kaki di mobil perlahan hilang, berganti kesejukan ketika merendam kaki telanjang ke dalam air danau yang dingin. Air terjun yang indah dan pemandian air panas membuat segala kejenuhan lenyap. Tubuh pun segar kembali.

Namun sayang, kekayaan itu tak tergarap apik. Tebaran pesona Danau Ranau yang memikat terasa kurang mengikat dan membekaskan niat untuk kembali lagi, lantaran sebagai kawasan wisata Danau Ranau yang luasnya lebih dari 44 kilometer persegi itu belum memiliki daya dukung yang memadai.

Setidaknya hanya terdapat dua losmen dan satu hotel kecil di Banding Agung, sebuah kecamatan yang berada di tepi danau tersebut. Kalaupun ada wisma yang lebih bagus itu adalah sebuah peristirahatan yang dikelola oleh PT Pusri. Selebihnya adalah home stay yang dikelola warga. Tiap kamar di rumah penduduk yang disewakan sebagai home stay itu dihargai Rp 30.000.

SAYANG memang, kawasan yang masih asli itu belum digarap dengan sungguh-sungguh. Promosi pariwisata yang digalang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, lewat Festival Danau Ranau belum juga memancing minat investor. Promosi yang digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat lewat Festival Teluk Setabas pun hingga kini belum juga mendatangkan investasi.

Pengelolaan kawasan yang berada di dua kabupaten dan dua provinsi itu tampaknya membutuhkan angin segar atau napas baru agar keelokan Danau Ranau terus berdetak dan menggetarkan minat pelancong untuk datang kembali.

Memang ada baiknya jika kedua pemerintah daerah itu melakukan share untuk mengelola kawasan itu sehingga mampu mendatangkan kemakmuran bagi warga di sana. Sayang jika setelah kelelahan akibat perjalanan selama enam jam dari Bandar Lampung, Danau Ranau kurang membangkitkan minat untuk kembali lagi.

Mungkin perlu disiasati dengan membangun tempat wisata yang meskipun kecil tetapi membuat pelancong tidak jenuh. Pemerintah Kabupaten Lampung Barat sudah mencoba membuat gardu pandang di sebuah bukit antara Liwa dan Bukit Kemuning. Sayangnya, gardu pandang itu juga kurang dirawat dengan baik. Selain itu, pemandangan di kaki bukit masih didominasi perkebunan kopi yang masih baru.Danau Ranau memang belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Danau Toba di Sumatera Utara. Kawasan yang terletak di kaki Puncak Pusubuhit itu memiliki sarana perhotelan dan jaringan jalan yang bagus.

Meskipun terus terancam pembabatan hutan, pada bagian tertentu hutan pinus di kawasan itu tetap dijaga. Selain itu, adat kebiasaan setempat serta potensi lokal dipelihara sehingga mengundang turis-baik dalam maupun luar negeri-selalu ingin kembali lagi ke sana.Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kawasan kedua danau tersebut tidak jauh berbeda. Dari Medan dibutuhkan waktu sekitar esmpat jam untuk mencapai Parapat, kecamatan yang berada di tepi Danau Toba. Sementara itu juga dibutuhkan waktu lima jam hingga enam jam dari Bandar Lampung untuk mencapai Danau Ranau.

Waktu yang panjang setidaknya dapat disiasati dengan pariwisata yang mengetengahkan perkampungan adat, sejarah perkebunan lada, atau pariwisata perkebunan. Itu perlu dilakukan karena jalur menuju Danau Ranau juga melewati Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, yang menyimpan sejarah kejayaan perkebunan lada masa silam. Selain itu, di sepanjang jalan menuju Danau Ranau banyak terdapat rumah tradisional Lampung.

Jika kawasan itu dikelola dengan baik, tidak tertutup kemungkinan perkampungan tradisional itu pun berkembang menjadi kawasan wisata. Sekeliling danau ditumbuhi berbagai tumbuhan semak yang oleh warga setempat disebut ranau. Maka danau itu pun dinamakan Danau Ranau. Sisa gunung api itu kini menjadi Gunung Seminung yang berdiri kokoh di tepi danau berair jernih tersebut.

            Pada sisi lain di kaki gunung Seminung terdapat sumber air panas dari dasar danau. Di sekitar danau ini juga dapat ditemui air terjun Subik. Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Marisa. Pulau Marisa sebenarnya daratan yang terpisah dari kaki Gunung Seminung karena genangan air danau. Di daratan yang luasnya tidak lebih dari satu hektar itu terdapat pohon-pohon kelapa, dan pengunjung bisa sekadar mampir untuk menikmati keindahan secuil daratan itu.

           Danau Ranau memang memiliki pesona. Bagaimana tidak? Bekas letusan gunung berapi tersebut seolah membentuk panggung alam nan elok. Gunung Seminung  menjulang 1.880 meter di atas permukaan laut menjadi latar belakang dengan nuansa magis. Tebing dan barisan perbukitan menjadi pagar pembatas panggung megah itu.

            Hamparan sawah hijau berpadu dengan air Danau Ranau yang biru seolah menjadi pelataran tempat berbagai jenis ikan berenang. Butir-butir kopi yang merah seakan-akan menjadi pemanis keindahan itu. Keelokan itu menjadi lengkap dengan bingkai indah pantai berpasir dan kerikil putih di sepanjang tepian.

       Kawasan Danau Ranau belum digarap dengan sungguh-sungguh. Promosi pariwisata yang digalang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, lewat Festival Danau Ranau belum memancing minat investor secara maksimal. Promosi yang digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat lewat Festival Teluk Setabas pun hingga kini belum mendatangkan investasi.

     Danau Ranau dari sisi Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan maupun Liwa, Lampung Barat, sama-sama indah. Wisatawan ingin kembali ke sana, meskipun hanya berperahu atau sekadar menikmati deburan ombak. Pesona Danau Ranau tetap mengundang keinginan datang kembali.

        Pengunjung yang tidak suka berperahu bisa menghabiskan waktu dengan beristirahat di penginapan. Di tepi Danau Ranau terdapat beberapa penginapan, yakni Seminung Lumbok Resort, Kotabatu di Banding Agung, dan cottage PT Pusri di Sukamarga. Di kawasan wisata itu juga terdapat obyek tambahan bagi pengunjung, yakni air panas  dengan kekhasan sendiri, karena mengalir langsung dari lubang-lubang di tebing. Air panas yang mengandung kadar belerang cukup tinggi ini terletak di Desa Air Panas di kaki Gunung Seminung. Lokasinya persis di seberang cottage milik PT Pusri di Sukamarga. Perjalanan dengan perahu motor dari Sukamarga ke lokasi air panas hanya sekitar 20 menit.

            Pengunjung bisa datang kapan saja dan menikmati air panas yang tak pernah habis mengucur dari perut bumi tersebut. Saat berperahu motor di danau dengan tujuan air panas, pesona keindahan Danau Ranau pun begitu terasa. Ombaknya tidak terlalu besar, airnya biru bening, dan pesona alam sekelilingnya yang bergunung-gunung, niscaya memberi kesan mendalam bagi pengunjung.

Air panas di tepian Danau Ranau mengucur langsung dari celah-celah kaki Gunung Seminung. Ketika kaki dicelupkan ke aliran air tersebut, rasa panas langsung menyengat. Pengunjung tidak sekadar mandi di air hangat. Air panas itu dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.

Bagi pengunjung yang tidak mandi, mereka bisa menikmati keindahan danau di sekitar air panas dengan duduk-duduk di warung atau dermaga. Sejumlah warung makanan terdapat di lokasi itu, berdampingan dengan kolam air panas. Di warung-warung inilah dijajakan hasil alam Gunung Seminung, terutama alpokat dan petai.

4.2    Goa putri
Bila anda sudah mencapai Baturaja dan Danau Ranau, sempatkanlah untuk mengunjungi tempat Wisata Goa Putri yang sangat terkenal dengan cerita mengenai seorang putri dengan perangkat istananya yang sudah menjadi stalagtit dan stalagmit ini. Goa Putri ini terletak di Desa Padang Bindu, Kecamatan Pengandonan, sekitar 35 km dari kota Baturaja.

Letak Goa Putri sangat mudah dicapai karena letaknya yang tidak jauh dari jalan raya utama lintas Baturaja-Prabumulih-Palembang. Di jalan masuk ke arah Goa Putri, terdapat sebuah jembatan besi di atas Sungai Ogan dan ada papan penunjuk arah ke Goa Putri dengan tulisan Objek Wisata Goa Putri. Dari atas jembatan anda bisa melihat aktivitas masyarakat desa yang sedang mencuci dan mandi di sungai tersebut. Namun ada salah satu hal yang menarik di sungai tersebut, yaitu adanya sebuah batu yang seolah "tumbuh" di tengah sungai. Batu tersebut kini mulai ditumbuhi rerumputan yang menutupi bentuk aslinya. Konon menurut cerita yang berkembang di masyarakat, batu inilah yang dikisahkan dalam legenda sang Putri Balian yang dikutuk menjadi batu oleh seorang yang sakti mandraguna di masa itu yang bernama Si Pahit Lidah.

Tidak jauh dari sungai tersebut, kira-kira 1 km, anda bisa menemukan sebuah goa yang oleh penduduk setempat disebut Goa Selabe atau yang sekarang disebut Goa Putri. Panjang goa ini lebih dari 150 meter dan masih sangat alami serta tidak tembus, artinya kita harus kembali menuju jalan masuk bila akan keluar. Goa ini belum dipasangi listrik hanya pada bagian depan saja yang sudah dipasangi listrik, sehingga pengunjung yang datang melihat Goa Putri tidak bisa singgah hingga ke dalam. Untuk yang gemar berpetualang tidak akan ada halangan, dengan berbekal lampu senter sudah cukup untuk masuk ke goa tersebut.

Tidak bisa dipastikan kapan goa ini ditemukan, tapi menurut cerita yang berkembang, memang goa ini sudah ada sejak dulu dan masyarakat sekitar menyebutnya Goa Putri yang dalam bahasa setempat disebut Susumen Dusun. Susumen berarti goa dan dusun berarti desa.

Menurut legenda yang dipercaya sampai sekarang, dulu tinggallah seorang Putri Balian bersama keluarganya. Suatu ketika, Sang Putri mandi di muara Sungai Semuhun (sungai yang mengalir dalam goa, bermuara di Sungai Ogan), persis pada pertemuan sungai dengan Sungai Ogan.

Pada suatu saat, kebetulan seorang pengembara sakti lewat, yang dikenal dengan nama Si Pahit Lidah. Melihat Sang Putri yang hendak mandi di sungai, Si Pahit Lidah mencoba menegur. Namun tidak diperdulikan sama sekali oleh Sang Putri. Sampai beberapa kali Si Pahit Lidah menegur Sang Putri, tetap saja tidak dihiraukan oleh Sang Putri. Si Pahit Lidah kemudian menggumam, "Sombong benar si Putri ini, diam seperti batu saja.." Gumaman itu langsung mengenai Sang Putri, sehingga serta merta Sang Putri berubah menjadi batu. Itulah batu yang terdapat di Sungai Ogan.

Si Pahit Lidah kemudian melanjutkan perjalanannya. Tak disangka sampailah sang pengembara di depan lokasi yang sekarang menjadi goa. Si Pahit Lidah kemudian menggumam lagi."Katanya ini desa, tapi tidak kelihatan orangnya, seperti goa batu saja." Dan jadilah tempat itu sebagai goa batu. Itulah legenda terjadinya Goa Putri.

Memasuki Goa Putri, banyak keindahan alam yang ciptaan Tuhan yang menakjubkan dapat anda saksikan. Bagaikan peninggalan kerajaan pada zaman dahulu yang telah runtuh namun masih utuh. Dinding goa yang dipenuhi stalagmit dan stalagtit menambah keindahan goa tersebut. Pada pintu masuk dapat anda lihat patung seekor singa yang seolah-olah sedang menjaga pintu. Sementara di dalam goa terdapat tempat peraduan Sang Putri, pelaminan Sang Putri lengkap dengan gambar mahkota di atasnya, singgasana raja serta lumbung padi yang kesemuanya itu sudah berbentuk batu. Yang lebih menarik lagi adalah adanya ruang keluarga raja lengkap dengan "wastafel" untuk mencuci tangan. Di sana terdapat aliran air yang sangat bersih dan dingin. Menurut cerita orang-orang yang di sana, jika anda mencuci muka dengan air tersebut bisa membuat anda awet muda, kulit muka tidak kelihatan tua.

Kisah tentang Goa Putri ini memang penuh misteri, entah kapan bisa terungkap. Mungkin hanya keajaiban alam biasa seperti kata seorang antropolog dari Bandung yang pernah melakukan studi di sini. Dia menyatakan bahwa Goa Putri dan kawasan sekitarnya adalah bekas lautan luas berusia 350 tahun sebelum masehi dan yang menjadi goa itu hanyalah sebuah batu karang.

·         Si Pahit Lidah

Siapa sebenarnya Si Pahit Lidah itu? Kalau anda pernah menonton film yang dibintangi oleh Advent Bangun sebagai Si Pahit Lidah, tentu anda akan mengenal legenda Si Pahit Lidah. Mengapa setiap kata-kata yang keluar dari lidahnya begitu "manjur" sehingga orang pun bisa berubah menjadi batu atau desa berubah menjadi goa batu.
Dari mana asal muasalnya Si Pahit Lidah? Sang pendekar ini sebenarnya hanyalah seorang pembantu yang bekerja pada seorang Kiai sakti. Setelah sekian lama bekerja pada Kiai, ia lalu berkeinginan meminta ilmu pada Kiai tersebut. Suatu saat Sang Kiai sudah merasa bosan karena berkali-kali mendengar permintaan pembantunya.
Karena si pembantu berkeinginan untuk segera pulang ke kampung halamannya, maka dipanggillah lelaki muda itu untuk menghadap Kiai. Kemudian Sang Kiai meminta lelaki itu untuk membuka mulutnya. Pada saat mulutnya terbuka, Sang Kiai lalu membuang ludah ke dalamnya. "Katanya kamu minta ilmu, ya itulah ilmu yang saya berikan, sekarang kamu boleh pulang", kata Sang Kiai. Nah kesaktian lelaki itu kemudian ternyata terletak pada lidahnya. Setiap kata-kata yang keluar dari lidahnya sungguh berbahaya karena semua bisa menjadi kenyataan.
Si Pahit Lidah juga mempunyai teman yang sakti yang dikenal dengan nama Nenek bermata empat atau Puyang Mata Empat. Keduanya ingin mengadu kesaktian dengan memilih tempat di sekitar Danau Ranau. Keduanya juga sepakat dengan cara saling ditimpa dengan buah aren, persis di bawah pohon aren. Yang pertama duduk di bawah pohon aren adalah Nenek Bermata Empat dan Si Pahit Lidah naik ke atas pohon aren dan memotong serangkaian buah aren. Begitu rangkaian buah aren jatuh persis di atas ubun-ubun kepala, Nenek Bermata Empat dengan mudah mengelak, karena ia bermata empat. Kendati Si Pahit Lidah marah-marah karena tidak bisa mengalahkan Nenek Bermata Empat tapi ia tetap harus menghormati perjanjian dan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.

Giliran Si Pahit Lidah untuk duduk di bawah pohon aren dan Nenek Bermata Empat naik ke atas pohon aren untuk memotong buah aren. Begitu tangkai buah aren dipotong, rangkaian buah itu jatuh persis di atas kepala Si Pahit Lidah. Tanpa bisa mengelak, karena Si Pahit Lidah tidak bisa memprediksi saat jatuhnya rangkaian buah aren itu, lelaki itu akhirnya mati konyol.

Karena penasaran, Nenek Bermata Empat ingin mengetahui lebih jauh mengapa sang jagoan bergelar Si Pahit Lidah, lalu ia mencicipi lidahnya. Dan apa yang terjadi kemudian? Sekonyong-konyong Nenek Bermata Empat itu langsung mati karena lidah Si Pahit Lidah mengandung kesaktian.

Kabarnya, makam Si Pahit Lidah berada di hutan yang berada di kawasan Danau Ranau. Sayangnya tidak banyak yang tahu tentang hal ini termasuk warga setempat. Sebenarnya berbagai legenda yang ada di Danau Ranau dan sekitarnya ini sangat potensial untuk dikemas sebagai paket wisata khusus.

Saat anda akan memasuki Goa Putri anda akan menemukan sebuah suguhan menarik yang dapat membuat anda meresapi nilai Historis Goa Putri.Kunon menurut legenda, Dahulu disini pernah hidup seorang putri bernama Puteri Dayang Merindu bersama keluarganya. Pada suatu hari Sang Puteri sedang mandi di muara sungai Semuhun, lewatlah seorang pengembara ditempat itu. Tatkala melihat Sang Puteri timbul perasaan ingin menyapa, namun saat itu tidak mendapat perhatian sama sekali sehingga dia merasa gusar. “Sombong sekali puteri ini, diam seperti batu” ujarnya. Tiba-tiba saja tubuh Puteri Dayang Merindu berubah menjadi batu. Kemudian Sang Pengembara memasuki desa, ketika tampak desa yang sepi karena penduduk sedang bekerja disawah dia kembali berkata “Katanya desa tetapi sepi seperti goa batu”. Dan seperti tadi desa tersebut berubah menjadi goa batu.Ternyata Pengembara tersebut adalah Si Serunting Sakti yang dijuluki Si Pahit Lidah, yang bila menyumpah semua yang terkena akan menjadi batu.Demikianlah menurut legenda asal mulanya Goa Puteri yang sekarang menjadi Obyek Wisata di Kabupaten Ogan Komering Ulu.

4.3  Curup bedegung
            Air Terjun Curup Tenang (bedegung) Merupakan air terjun tertinggi di Sumatera Selatan dan merupakan objek wisata andalan bagi sumsel khususnya Kab. Muara Enim . Lokasi air terjun Curup terletak di Desa Bedegung, Kecamatan Tanjung Agung, sekitar 56 km di selatan Muara Enim, jikalau ditempuh dari kota baturaja kurang lebih berjarak 80 Km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Sedangkan dari kota Palembang dapat ditempuh selama lebih kurang dari 4 jam.

Air terjun tertinggi di Sumatera Selatan ini memiliki tinggi 99 meter, Sumber mata airnya berasal dari celah Bukit Barisan dan ke bawah membentuk sebuah sungai kecil yang deras. Curup tenang atau juga warga sekitar menyebutnya Curup Bedegung merupakan objek wisata alam andalan daerah ini.Harga tiket bervariasi, apabila pengunjung datang pada saat liburan maka harga tiket cenderung lebih mahal. Apabila pengunjung ingin bermalam, ada beberapa tempat penginapan yang bisa anda gunakan yang letaknya cukup dekat dengan curup ini. Selain menikmati keindahan air terjun, pengunjung juga bisa menghibur diri di tempat pemancingan atau berarung jeram disungai deras ini.Untuk memudahkan para pengunjung mendekati air terjun, tersedia jalan setapak sepanjang 600 meter yang dibangun di tepi sungai dan sebuah jembatan yang melintasi sungai kecil yang deras itu. Sedangkan di atas sungai tersedia lapangan parkir, warung-warung yang menyediakan makan dan minuman. Dan agak ke hilir, terdapat sebuah tempat pemandian alam dan tempat memancing, lengkap dengan fasilitasnya.Bagi para pengunjung yang berasal dari tempat jauh, tempat ini juga sudah dilengkapi dengan penginapan yang sudah cukup memadai.Air terjun alami ini merupakan tempat rekreasi yang memberikan kesejukan bagi pengunjung karena hembusan angin yang membawa butiran-butiran air yang berhamburan akibat jatuh dari atas ketinggian.

Dibalik keindahan Air Terjun Bedegung ? Menurut tokoh masyarakat Desa Bedegung, Sulton ( 60 ) .Sulton mengatakan berdasarkan cerita para puyang (pendahulu) salah seorang Sultan Palembang meminta kepada seluruh masyarakat desa terutama yang berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari Sembilan untuk mengumpulkan telur. Telur akan digunakan sebagai perekat pembangunan benteng pertahanan dari serangan penjajah.Dalam perjalanan pengumpulan telur, sultan melihat banyak gadis-gadis desa yang cantik. Ia pun berniat mempersunting salah satunya sebagai istri. Ia pun memerintahkan prajurit dan hulubalangnya untuk mengumpulkan para gadis. Namun dari setelah terkumpul, sultan merasa belum ada yang cocok. Sampai akhirnya sultan menemukan sebuah bangki emas yang hanyut di sungai. Sultan lalu memerintahkan prajuritnya untuk mencari siapa pemilik bangki emas itu.

Setelah ditelusuri akhirnya diketahui pemilik bangki emas itu adalah anak gadis Kerio Carang.Untuk memastikannya lalu Sultan bersama prajuritnya mendatangi rumah Kerio Carang, dan ternyata tebakannya tidak meleset. Sultan pun mengutarakan maksudnya ingin membawa putri Kerio Carang untuk dijadikan permaisuri. Mendengar keinginan Sultan, baik Kerio Carang maupun putrinya tidak setuju. Merasa keinginannya ditolak Sultan tidak terima, sehingga sempat terjadi perkelahian.Namun ternyata Kerio Carang dan putrinya bukan orang sembarangan. Mereka memiliki kesaktian sehingga berhasil lolos dari tangkapan Sultan. Dalam upaya melarikan diri, akhirnya putri Kerio Carang, memilih bermukim di hutan di Desa Bedegung, tepatnya di lokasi Air Terjun Bedegung sekarang. Setelah sekian lama bersembunyi dari kejaran Sultan Palembang, putri merasa kesepian. Ia pun sesekali keluar ke desa terdekat. Kecantikan putri pun dikenal luas oleh masyarakat desa. Namun di balik kecantikannya itu, putri ternyata sangat kesepian. Ia pun sering pulang ke rumah orangtuanya dan menangis tak kunjung henti. Kasihan dengan putrinya, akhirnya Kerio Carang mendatangi Desa Bedegung dan menemui dua puyang, yakni puyang Bukit, dan puyang Tenang .

Kedatangannya tersebut meminta kepada dua puyang tersebut untuk memberi nama kepada putrinya supaya tidak menangis lagi. Jika nama tersebut cocok ia akan memberikan imbalan hadiah. Nama yang diberikan Puyang Bukit ternyata tak mampu menghentikan tangisan putri. Baru giliran Puyang Tenang yang memberinya nama Putri Dayang Rindu, tangisan sang putri akhirnya berhenti.Setelah sekian lama, akhirnya Sultan dan prajuritnya mengetahui keberadaan sang Putri Dayang Rindu. Lalu ia bersama prajuritnya menuju ke Desa Bedegung dan melakukan pencarian ke tempat persembunyiannya di Air Terjun Curup Tenang. Setelah ditemukan, Putri Dayang Rindu tetap menolak keinginan Sultan. Akhirnya Sultan semakin marah dan memotong tubuh putri menjadi dua bagian. “Itulah cerita legenda tentang Air Terjun Curup Tenang,” ungkap Sulton.

Curup bedegung sangatlah indah. Didukung suasana alamnya yang masih asri, air terjun Curup Bedegung menawarkan pesona yang mengagumkan. Dengan ketinggian 99 meter, kesejukan airnya begitu menggoda pengunjung untuk segera menikmatinya.

Bagi Para traveler, nama air terjun Curup Bedegung mungkin masih asing. Padahal, sebagaimana air terjun lainnya yang sudah cukup ternama seperti Tawang Mangu di Solo atau Coban Rondo di Malang, Curup Bedegung juga menawarkan pesona alam yang mengagumkan. Keindahan alam dan panorama yang ditawarkan air terjun berketinggian 99 meter ini akan sulit dilupakan pecinta jalan-jalan. Sejuknya air yang mengalir di sungai dari aliran air terjun, lengkap dengan atmosfir pedesaan segera dapat Anda rasakan.

Dari letaknya, Curup Bedegung memang kurang menguntungkan, karena jauh dari pusat kota Palembang, Sumatera Selatan. Jarak tempuh antara Palembang ke air terjun ini sekitar 4-5 jam. Belum lagi jalanan yang semakin menyempit dan berkelok-kelok ketika mendekati desa Bedegung. Meski begitu, jangan lewatkan perjalanan Anda dengan tertidur, sebab Anda akan disuguhi pemandangan indah Sungai Lematang yang jernih.

Jika Anda berkunjung di musim buah durian, di sisi kanan kiri jalan akan banyak orang yang membawa hasil kebun mereka di keranjang. Coba saja hentikan salah satu dari mereka dan tawar harga dari makanan raja-raja ini. Jangan kaget jika harga durian tersebut sangat murah, serta bisa langsung dibuka dan dimakan di tempat. Anda bisa menikmati durian yang manis dan harum sambil melihat aliran sungai.
Selain masih asli, panorama Curup Bedegung makin lengkap dengan dukungan suasana alam yang sejuk, hijau, dan damai. Belum banyak sentuhan tangan manusia di sana sini. Di bawah air terjun ini terdapat batu-batuan besar yang memungkinkan kita mendekat ke air terjun. Aliran sungai dari air terjun cukup deras di bagian yang mengecil, dan tenang di bagian sungai yang agak melebar. Pengunjung dapat bermandi ria atau sekadar merendam kaki di sini.

Bagi yang hobi arung jeram, arus sungai Lematang yang cukup liar ini bisa dipakai untuk menjajal kemampuan. Sungai ini pun cukup lebar seperti sungai-sungai lain di daerah Sumatera. Batu-batuan yang cukup besar patut diwaspadai sebelum berarung jeram. Hanya saja, untuk arung jeram, pengunjung harus datang rombongan dan melakukan pemesanan terlebih dahulu.

Transportasi
Walaupun berada di pelosok, bukan berarti Curup Bedegung tidak dapat dicapai dengan transportasi umum. Jika berangkat dari Palembang, Anda harus naik bus antar kota jurusan Muara Enim dengan tarif Rp20.000 – Rp30.000.

Sesampai di terminal Muara Enim, lanjutkan dengan angkutan desa ke terminal Tanjung Enim dengan ongkos Rp2.000. Anda masih harus naik angkutan desa jurusan Semendo dengan tarif sekitar Rp9.000. Jangan segan meminta kepada supir angkutan untuk mengantar sampai ke lokasi air terjun Curup Bedegung. Sayangnya, transportasi ini hanya sampai sore di hari Minggu, dan hanya sampai pukul 14.00 WIB di hari biasa.

BAB V
LAPORAN PERJALANAN
5.1  Persiapan
Pada hari sabtu tanggal 13 desember 2014, siswa siswi MAN pagaralam berkumpul di depan sekolah,dalam rangka Study Tour ke Danau ranau, goa putri, dan curup bedegung. Sebelum berangkat kami di suruh solat maghrib terlebih dahulu, sesudah itu kami di suruh menunggu bus. Kira-kira 1 jam menunggu baru busnya dating, sebelum naik bus kami di suruh menyiapkan makanan oleh guru pembimbing. Setelah itu kami berangkat menuju lokasi wisata.

5.2  Isi
            Pada tanggal 13 Desember 2014,kami  menungggu  bus  dari  jam 17.00 hinggga   akhirnya  bus  itu  dating  pada  jam  20.00 WIB,ternyata  kami  mendapat  bus  nomor  satu yang  semua  isinya  dari  kelas  xii ipa 1 dan xii ipa 2. Dalam perjalanan bus kami sangat seru, semuanya bernyanyi bersama, tetapi di tengah-tengah perjalanan ada yang mabuk, yaitu dewi ayu juniarti. Setelah sampai dirumah makan ternyata kami tidak makan, banyak yang merasa lapar. Kira-kira sudah istirahat dua kali dirumah makan, tetapi kami tetap belum di beri makan.

Pada hari minggu tanggal 14 desember 2014 tepatnya pukul 06:00 kami pun sampai di man muara 2, kami pun di sambut hangat oleh guru-guru man muara 2, dan kami pun di beri ruangan dan di tuntun untuk ke ruangan, setelah itu kami pun istirahat di ruangan itu dan bersiap untuk mandi, ternyata di wc pun ramai, banyak orang yang sedang mengantri untuk mandi. Setelah pukul 08:00 kami pun di beri makan. Setelah makan kami di suruh bersiap-siap untuk pergi ke danau ranau. Sebelum pergi ke danau ranau kami pun di sambut oleh anak murid man muara dua dengan ektra kulikuler drumbandnya, kami pun takjub dan kami pun di tantang untuk bermain drumband, kami pun tidak ingin kalah, dan ternyata kami bermain bagus, man muara dua pun sangat takjub dngan permainan  Sebelum pergi ke danau ranau kami pun di sambut oleh anak murit man muara dua dengan ekskul drumbandnya, kami pun takjub dan kami pun di tantang untuk bermain drumband, kami pun tidak ingin kalah, dan ternyata kami bermain bagus, man muara dua pun sangat takjub dngan permainan kami.

Pukul 12 kami pun tiba di danau ranau untuk menuju pemandian air panas, dalam perjalanan bus kami sangat heboh dan banyak yang bernyanyi bersama, sekitar 2 jam perjalanan kami pun tiba dan kami telah di tunggu oleh 5 perahu, yang masing masing perahu dapat menampung 30 siswa.kami pun bergegas untuk naik perahu dan menyebrangi danau untuk menuju pemandian air panas, sialnya perahu kami sangat lambat, yang lain sudah sampai, sedangkan yang kami sangatlah lama.Setelah menempuh waktu 2 jam kami pun sampai di pemandian air panas dengan menggunakan perahu. Banyak yang mandi, tetapi pemandian air panasnya kering, dan terpaksa kami mandi di danaunya, banyak yang menyewa ban untuk mandi seharga Rp5000 untuk satu orang, banyak yang menyewa karena danaunya sangat dalam. Setelah mandi kami berfoto-foto oleh guru pembimbing.

Sore pun tiba dan kami pulang ke man muara 2, sekitar pukul 06:00 kami pun tiba di man muara 2, stelah sampai semua murid pun bergegas untuk mandi, stelah mandi kami di suruh makan nasi bungkus, ternyata di man muara 2 ada orgen tunggal khusus man muara 2, dan banyak yang bernyanyi. Sekitar pukul 20:00 ternyata ada penyambutan dari man muara dua untuk kepala sekolah,kedua kepala sekolah saling bertukar cendra mata.Sekalian kami pamitan untuk besoknya pergi ke baturaja untuk mengunjungi wisata selanjutnya yaitu goa puteri.

Sekitar pukul 23:50 kami di suruh ikut berjoget, dan yang berada di dalam kelas di paksa untuk keluar karena untuk menjaga kesopanan, padahal kami semua kelelahan, tetapi kami semua terpaksa untuk ikut joget(orgenan). Buk darna marah marah karena banyak yang masuk kelas.

Keesokan harinya, sekitar pukul 8 kami pun pamitan dengan para guru dan staf man muara dua untuk pergi ke baturaja menuju gua puteri.

Pada tanggal 15 Desember 2014 pukul 08.30 ,pada saat diperjalanan ada teman kami yang menangis didalam bis karena mabuk dan tak ada yang menghiraukannya.Sekitar pukul 11.00 kami sampai diwisata gua puteri. Setelah sampai semua siswapun takjub melihat keindahan  gua puteri dan semuanya pun masuk,sebelum masuk  ke gua  puteri kami disuruh memukul batu sebanyak tiga kali pukulan,ternya di dalam gua pun sanngat indah.

Di dalam goa sangat indah dan ada batu yang terlihat seperti 2 ekor harimau menurut legenda sedang menjaga putri saat ia mandi. Banyak yang berfoto di dalam goa itu, dan banyak yang terlihat seperti penampakan. Di dalam goa puteri banyak ruangan ruangan dan lampu warna-warni. Di dalamnya terdapat ruangan-ruangan yang dulunya di gunakan oleh raja dan puteri, diantaranya yaitu : singga sana raja, singga sana puteri, tempat puteri mandi, lumbung padi dan sebagainya. Gua putrid ini terdiri dari dua lantai. Namun pada lantai keduan jarank antara lantai dan langit-langit gua sangat dekat, sehingga apabila berjalan harus sedikit merangkak.

Setelah semuanya keluar dari goa itu kami sangat lama menunggu makan siang, sekitar setengah jam menunggu dan nasi pun sampai, dan kami semua makan siang. Selain itu kami semua di goa putri membeli oleh-oleh untuk kenang-kenangan.

Sekitar pukul 15.00 kami pun pergi ke wisata yang ketiga yaitu curup bedegung,setelah sampai kami pun langsung bergegas menuju curupnya dengan perjalanan sekitar 100 meter,setelah sampai pun ada teman-teman kami yang mandi dan ada pula yang tidak. Sore haripun tiba,setelah semuanya menikmati keindahan curup bedegung kami pun bergegas pulang ke pagaralam .

Pada pukul 17.00 kami pun bergegas pulang,sekitar empat jam dalam perjalanan kami pun sampai di rumah makan dekat muara tenang kami pun berhenti dan makan malam bersama.Setelah makan selesai kamipun bergegas untuk pulang.

Sekitar pukul 22.30 kami pun sampai di MAN pagaralam,setelah sampai  semua  teman-teman pulang ke rumahnya masing-masing.

5.3  Objek Wisata
1.    Danau ranau
Letak Objek Wisata danau ranau
Provinsi : sumatera selatan
Kabupaten : Oku Selatan
Kelebihan dari wisata danau ranau adalah DANAU Ranau memiliki pesona. Bagamaina tidak? Bekas letusan gunung berapi tersebut seolah membentuk panggung alam yang elok. Gunung Seminung yang menjulang 1.880 meter di atas permukaan laut menjadi latar belakang yang penuh dengan nuansa magis. Tebing dan barisan perbukitan menjadi pagar pembatas panggung megah itu.
Hamparan sawah yang hijau berpadu dengan air Danau Ranau yang biru seolah menjadi pelataran tempat berbagai jenis ikan berenang, menari. Butir-butir kopi yang merah seakan-akan menjadi pemanis keindahan itu. Keelokan itu menjadi lengkap dengan bingkai indah pantai berpasir dan kerikil putih yang ada di sepanjang tepi danau itu.

2.    Goa putri
Letak Objek Wisata Goa putri :
Provinsi : sumatera selatan
Kota : Batu raja
            Keistimewaan dari goa putri itu adalah Saat anda akan memasuki Goa Putri anda akan menemukan sebuah suguhan menarik yang dapat membuat anda meresapi nilai Historis Goa Putri.Kunon menurut legenda, Dahulu disini pernah hidup seorang putri bernama Puteri Dayang Merindu bersama keluarganya. Pada suatu hari Sang Puteri sedang mandi di muara sungai Semuhun, lewatlah seorang pengembara ditempat itu. Tatkala melihat Sang Puteri timbul perasaan ingin menyapa, namun saat itu tidak mendapat perhatian sama sekali sehingga dia merasa gusar. “Sombong sekali puteri ini, diam seperti batu” ujarnya. Tiba-tiba saja tubuh Puteri Dayang Merindu berubah menjadi batu. Kemudian Sang Pengembara memasuki desa, ketika tampak desa yang sepi karena penduduk sedang bekerja disawah dia kembali berkata “Katanya desa tetapi sepi seperti goa batu”. Dan seperti tadi desa tersebut berubah menjadi goa batu.Ternyata Pengembara tersebut adalah Si Serunting Sakti yang dijuluki Si Pahit Lidah, yang bila menyumpah semua yang terkena akan menjadi batu. Demikianlah menurut legenda asal mulanya Goa Puteri yang sekarang menjadi Obyek Wisata di Kabupaten Ogan Komering Ulu
3.    Curup bedegung
Letak Wisata Curup Bedegung :
Provinsi : Sumatera Selatan
Kabupaten : Muara Enim
Didukung suasana alamnya yang masih asri, air terjun Curup Bedegung menawarkan pesona yang mengagumkan. Dengan ketinggian 99 meter, kesejukan airnya begitu menggoda pengunjung untuk segera menikmatinya.
BAGI para traveler, nama air terjun Curup Bedegung mungkin masih asing. Padahal, sebagaimana air terjun lainnya yang sudah cukup ternama seperti Tawang Mangu di Solo atau Coban Rondo di Malang, Curup Bedegung juga menawarkan pesona alam yang mengagumkan. Keindahan alam dan panorama yang ditawarkan air terjun berketinggian 99 meter ini akan sulit dilupakan pecinta jalan-jalan. Sejuknya air yang mengalir di sungai dari aliran air terjun, lengkap dengan atmosfir pedesaan segera dapat Anda rasakan.
Dari letaknya, Curup Bedegung memang kurang menguntungkan, karena jauh dari pusat kota Palembang, Sumatera Selatan. Jarak tempuh antara Palembang ke air terjun ini sekitar 4-5 jam. Belum lagi jalanan yang semakin menyempit dan berkelok-kelok ketika mendekati desa Bedegung. Meski begitu, jangan lewatkan perjalanan Anda dengan tertidur, sebab Anda akan disuguhi pemandangan indah Sungai Lematang yang jernih.
Jika Anda berkunjung di musim buah durian, di sisi kanan kiri jalan akan banyak orang yang membawa hasil kebun mereka di keranjang. Coba saja hentikan salah satu dari mereka dan tawar harga dari makanan raja-raja ini. Jangan kaget jika harga durian tersebut sangat murah, serta bisa langsung dibuka dan dimakan di tempat. Anda bisa menikmati durian yang manis dan harum sambil melihat aliran sungai.
Selain masih asri, panorama Curup Bedegung makin lengkap dengan dukungan suasana alam yang sejuk, hijau, dan damai. Belum banyak sentuhan tangan manusia di sana sini. Di bawah air terjun ini terdapat batu-batuan besar yang memungkinkan kita mendekat ke air terjun. Aliran sungai dari air terjun cukup deras di bagian yang mengecil, dan tenang di bagian sungai yang agak melebar. Pengunjung dapat bermandi ria atau sekadar merendam kaki di sini.
Bagi yang hobi arung jeram, arus sungai Lematang yang cukup liar ini bisa dipakai untuk menjajal kemampuan. Sungai ini pun cukup lebar seperti sungai-sungai lain di daerah Sumatera. Batu-batuan yang cukup besar patut diwaspadai sebelum berarung jeram. Hanya saja, untuk arung jeram, pengunjung harus datang rombongan dan melakukan pemesanan terlebih dahulu.
Walaupun berada di pelosok, bukan berarti Curup Bedegung tidak dapat dicapai dengan transportasi umum. Jika berangkat dari Palembang, Anda harus naik bus antar kota jurusan Muara Enim dengan tarif Rp20.000 – Rp30.000.
Sesampai di terminal Muara Enim, lanjutkan dengan angkutan desa ke terminal Tanjung Enim dengan ongkos Rp2.000. Anda masih harus naik angkutan desa jurusan Semendo dengan tarif sekitar Rp9.000. Jangan segan meminta kepada supir angkutan untuk mengantar sampai ke lokasi air terjun Curup Bedegung. Sayangnya, transportasi ini hanya sampai sore di hari Minggu, dan hanya sampai pukul 14.00 WIB di hari biasa.
Jika Anda ingin berlama-lama di Curup Bedegung, maka Anda dapat menginap beramai-ramai di mess di dekat lokasi air terjun. Namun jika tak punya banyak waktu, mungkin Anda dapat mencarter mobil. Tidak mudah memang, tapi sebanding dengan jelajah alam yang akan Anda nikmati.
5.4  Bukti Nyata
1.      Foto di curup bedegung
2.      Foto di danau ranau
3.      Foto di goa putri
4.      Foto di goa putri
5.      Foto legenda dari goa puteri
6.      Foto di danau ranau
7.      Foto di danau ranau
8.      Foto di danau ranau
9.      Foto bersama drumband MAN muara 2
10.  Foto bersama kelas XII ipa 1 di danau ranau
11.  Foto danau ranau
12.  Foto di atas perahu
13.  Foto bersama di curup bedegung

BAB VI
PENUTUP
6.1 KESIMPULAN

            Dari  hasil  penelitian  yang  kami   lakukan  dapat  disimpulkan  bahwa  objek  wisata  yang  terdapat  di  Indonesia  sangatlah  beraneka  ragam , dan  Indah.Salah  satunya  yang  terdapat  di Sumatera  Selatan. Yaitu  Danau  Ranau yang  terletak  di  kecamatan  Banding  Agung  Kabupaten  Oku Selatan. Goa  Putri  yang  terletak  di  Desa  Pandang  Bindu,Kecamatan  Pengandonan,Sekitar  35 meter  dari  Batu  Raja. Dan  Curup  Bedegung  yang terletak  di Kecamatan  Tanjung  Agung ,Sumatera   Selatan. Sebagai  warga  Negara  yang  baik  sudah  sepantasnya  kita  menjaga  dan   melestarikannya  agar  bisa  meningkatkan  devisa  Negara.

6.2  SARAN
            Dari  hasil  penelitian  yang  kami buat ,mungkin  penyusunan   kami  kurang   baik  dan  sempurna. Dan  diharapkan  bagi  pembaca  diharapkan dapat  memberikan kritik  dan  saran  untuk  melengkapi  hasil  penelitian  kami.

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More